ARTIKEL
PENYELAMATAN BAHASA MINANGKABAU
OLEH :
WAHYUDI RAHMAT
BP. 0810742010
SASTRA DAERAH MINANGKABAU
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS ANDALAS
2010
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan suatu negara atau bangsa yang memiliki keanekaragaman di dalam berbagai aspek. Bukti nyata adanya kemajemukan (pulralisme) di dalam negara kita terlihat dalam beragamnya bahasa di Indonesia. Tidak dapat kita pungkiri bahwa bahasa merupakan pengenal sebuah daerah dan kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia.
Tidak ada satu suku bangsa pun yang tidak memiliki bahasa pengenal mereka di samping bahasa Indonesia sendiri. Melihat realita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural maka akan terlihat pula adanya berbagai suku bangsa di Indonesia. Tiap suku bangsa inilah yang kemudian mempunyai ciri khas bahasa yang berbeda- beda. Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia yang memiliki kharakteristik yang membedakannya dengan suku lain.
Keunikan kharakteristik Minangkabau ini tercermin dari bahasa yang mereka miliki. Minangkabau dengan sekelumit ragam bahasa minang merupakan salah satu hal yang menarik untuk dipelajari yang pada akhirnya akan menjadi bekal ilmu pengetahuan bagi kita. Pada era globalisasi ini, kebutuhan manusia semakin kompleks, apalagi tahun 2010 ini akan dimulai era Free Market atau pasar bebas. usaha yang mengarah pada kemajuan disegala bidang semakin berkembang pula, baik dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam berbahasa. Hal ini akan memberi pengaruh yang besar terhadap bahasa minang.
Saat ini banyak ditemukan kejanggalan berbahasa minangkabau yang telah menyimpang dari hal yang sebenarnya. Bisa dikatakan bahwa bahasa minang saat ini hanya sebagai pengenal saja bagi kita, padahal pada era free market ini kita dapat menonjolkan kebudayaan kita sebagai minangkabau. Namun diragukan lagi bahasa minang ini akan bisa hidup dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman,
BAB II
PEMBAHASAN
Bahasa minang yang menjadi objek pembahasan kita ini digunakan masyarakat Minangkabau. Bahasa minang mempunyai kedudukan sebagai bahasa daerah. Dalam hubungan dengan perkembangan kehidupan kenegaraan Indonesia ke arah pemerintahan otonomi daerah serta pentingnya pembinaan dan pelestarian kebudayaan daerah maka bahasa daerah perlu memajukan peranan yang lebih besar dan itu perlu memperoleh perhatian yang lebih luas dan mendalam.
Selama ini bahasa minang tumbuh ibaratkan padi yang dipelihara, tidak dipupuk, tidak disiangi, sehingga tidak jelas lagi mana yang padi mana yang rumput. Itu merupakan salah satu gambaran bahasa minang untuk saat ini. Untuk saat ini banyak ditemukan kejanggalan berbahasa minang yang telah menyimpang dari hal yang sebenarnya. Bisa dikatakan bahwa bahasa minang saat ini hanya sebagai pengenal saja bagi kita, padahal pada era free market ini kita dapat menonjolkan kebudayaan kita sebagai minangkabau. Namun diragukan lagi bahasa minang ini akan bisa hidup dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, karena pengaruh luar sangat besar terhadap masyarakat kita ini. Manusia tidak pernah berhenti berkomunikasi dengan menggunakan bahasa.
Seperti halnya bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia, bahasa minang terus berubah. Pengaruh bahasa Indonesia sudah menyebar jauh ke pelosok daerah di Sumatra Barat, dibawa oleh media audio visual seperti televisi dan radio, ‘membengkokkan’ lidah generasi muda Minangkabau, yang mulai terbata-bata berkomunikasi dalam bahasa amaknya sendiri. Suka atau tidak suka, bahasa Indonesia, dan mungkin juga bahasa asing seperti bahasa Inggris, makin mempengaruhi masyarakat penutur bahasa minang. Demikianlah umpamanya, di banyak desa aktivitas budaya tempat menuturkan bahasa Minang ragam adat makin jarang dipraktekkan lagi. Bahasa Minangkabau yang penuh nilai-nilai dalam bahasanya, sudah pasti mempunyai peranan penting dalam membentuk kecerdasan pendahulu kita. Apakah orang tua sekarang takut dibilang kampungan atau ingin kelihatan lebih terpelajar dan modern sehingga merasa tidak perlu mengajarkan bahasa minang lagi kepada anak mereka?. Padahal dalam syarak (Islam) sudah jelas-jelas mengatakan bahwa kita harus banyak mempelajari bahasa suatu kaum, seperti: bahasa Minangkabau, bahasa Indonesia, Arab, Inggris, Perancis, Mandarin, dan sebagainya lebih diinginkan oleh ajaran agama kita dari pada cuma tahu satu bahasa saja. Bahasa merupakan media utama untuk menghantarkan kita menuju pengetahuan. Penguasaan bahasa minang akan menjadi modal generasi-generasi penerus untuk membuka peti kebudayaan alam minangkabau yang berisi filosofi yang tinggi dan bermutu ini.
Masyarakat penutur bahasa minangkabau merupakan masyarakat yang mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Kebijakan bahasa nasional menggariskan bahwa bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi, maka akan menyebabkan memudarnya bahasa minang pada masyarakat minang. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia adalah lambang semangat kebangsaan, alat penyatuan berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang kebahasaan, kebudayaan, dan kesukuannya ke dalam satu masyarakat nasional Indonesia, alat perhubungan antar suku, namun positifnya kita rela mengorbankan bahasa amak kita sendiri demi untuk mendapatkan bahasa ibu yang lebih besar dan lebih mulia dan negatifnya tidak terkecil harapan kita menganak tirikan bahasa amak kita sendiri. Padahal bahasa minang sendiri adalah lambang nilai sosial dan budaya yang mencerminkan pada kebudayaan kita yang sangat kaya dan bahasa minang inilah yang menjadi kunci dari kebudayaan kita tersebut.
Oleh sebab itu kekayaan bahasa minang itu harus diselamatkan. Jika kita tidak bertindak cepat, maka bahasa minang ini akan mudah saja hilang dimakan zaman yang semakin-semakin ini dan maka dapat dipastikan sedikit jejak yang akan tertinggal di masa depan. Kita tidak dapat menyalahkan zaman, namun kitalah yang harus segera bertindak untuk penyelamatan ini. Kita bisa memulai dengan mencatatkan seluruh kosakata, frase, petatah-petitih dan sebagainya atau melaksanakan pengajaran dalam mempertahankan bahasa minang. Hal ini dapat dilakukan oleh kita semua. Mulai dari mahasiswa-mahasiswi UNAND yang mendapat mata kuliah KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang biasanya dilakukan pada semester enam, masyarakat yang cinta akan keaslian bahasa minang, serta pemerintah yang sangat berperan penting dalam penyelamatan bahasa minag tersebut.
Selain itu, informan-informan di kampung-kampung dari kalangan generasi tua, seperti tukang kaba, pemangku adat, dukun, guru silat, dan para tetua kampung, tentu merupakan sumber-sumber data yang tak ternilai. Jika semua tidak bertindak mulai dari ahli bahasa, mahasiswa/mahasiswi bahkan pemerintah tidak bertindak cepat maka kekayaan bahasa minang yang kaya itu akan terbakar dimakan zaman sebelum kita sempat menyelamatkannya. Memang ada generasi berikutnya, tetapi mereka berbicara dalam bahasa minang yang semakin ‘kering’. Maka itu berarti makin sempurnalah kehilangan kita atas kekayaan bahasa minang itu. Sebab bahasa minang itu memang kaya. Jika lenyap tanpa sempat diselamatkan, maka itu berarti kerugian besar bagi suku bangsa Minangkabau sendiri.
Ada sebuah solusi yang sangat bagus untuk diterapkan dalam mempertahankan bahasa minang mudah dan tidak perlu menunggu kuliah sampai semester enam atau bagi yang tidak kuliah juga dapat melakukan penyelamatan bahasa minang, yaitu dengan kesenian seperti kesenian randai, musik-musik atau lagu-lagu minang. Seperti halnya randai, randai merupakan teater tradisional yang merupakan media pendidikan dalam menyampaikan ajaran dan adat berupa pesan/nasehat dan didalamnya terdapat unsur cerita, unsur dendang/musik, unsur tari dan unsur drama dan sudah pasti dalam randai memakai bahasa minang. Baik itu dalam dendang maupun dalam dialog.
Banyak lembaga kesenian yang hidup namun jarang yang mengajarkan kesenian ini. BSTM ( Bengkel Seni Tradisi Minangkabau ) merupakan satu-satunya Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Andalas dalam naungan Fakultas Sastra yang mencoba terus melestarikan seni kebudayaan Minangkabau. Walaupun hanya sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa yang bersifat Universitas, tapi gema atau pengaruhnya telah terasa di Indonesia bahkan telah sampai keluar negeri. Pada akhir tahun 2008 lalu BSTM melakukan pertunjukan di Negeri Jiran Malaysia dan ini merupakan sebuah kebanggan bagi Universitas. Di BSTM ini mereka mengajarkan tentang pentingnya menjaga kelestarian Minagkabau. Mulai dari pelatihan Randai , dendang, Tari dan Musik tradisional semua diajarkan oleh mahasiswa yang telah berpengalaman di bidangnya. Pelaksanaan kegiatan ini mempunyai dampak positif dan secara langsung dapat meningkatkan apresiasi dan keterampilan pada peserta terhadap randai, dendang, tari dan musik namun pada intinya dalam penyelamatan bahasa minang.
System oral merupakan metode yang sudah lazim digunakan oleh masyarakat tradisi khususnya dalam mengajarkan dan mengembangkan kesenian tradisi kepada generasi penerus yang akan mewarisinya secara berkesinambungan. BSTM juga melakukan hal yang demikian. Setelah melakukan latihan semua peserta merasakan bahwa kegiatan tersebut merupakan suatu kegiatan yang indah untuk dibawakan.
Metode tersebut diharapkan dapat membantu tercapainya keterampilan yang baik, yaitu keterampilan praktek yang disertai kasadaran dan pemahaman terhadap bagian-bagian kegiatan yang indah untuk dibawakan. sehingga para peserta pelatihan merasa termotivasi dan tidak bosan untuk belajar secara serius dan tertarik terhadap materi yang diajarkan yang otomatis menambah cinta mereka terhadap bahasa minang. Dengan demikian para peserta bersemangat latihan dengan baik, baik secara individual maupun berkelompok walaupun tanpa bimbingan langsung atau diluar jadwal kegitan yang telah direncanakan.
Dari segi musik, hal ini juga sangat besar manfaatnya dalam mempetahankan bahasa minang malahan membantu pemerintah dalam masalah pajak pemasukan dalam penjualan kaset-kaset atau cd musik minang ini. Banyak lagu minang yang dahulu sangat laris di pasaran kini mulai hilang dengan musik popular. Ini merupakan tanggung jawab pemerintah untuk membatasi penjualan lagu popular di kalangan pasar. Atau ide-ide kreatif bagi para pemuda atau ahli teknologi dengan men-download lagu minang gratis di internet karena setiap orang rata-rata sudah pandai berinternet.
Pekerjaan yang luhur perlu kita hargai dan dukung dalam upaya pelestarian dan pengembangan budaya agar tidak punah dimakan jaman. Sekarang ini banyak vocabulary Minangkabau yang hanya dikenali oleh orang-orang tua. Usaha untuk membuat ensiklopedi dalam bentuk audio-visual dalam bentuk VCD sekarang ini mungkin memang hal yang layak dilakukan walaupun memalukan untuk kita. Arus globalisasi sekarang ini bukanlah alasan buat kita mengubur budaya sendiri yang merupakan ciri khas dan identitas kita sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dan merdeka. Malahan kita dapat memperkenalkan dan menjual hasil kebudayaan kita ini, karena secara pasti suku kita ini memang kaya.
Satu kesenian tidak hanya dipandang dari segi bentuk penyajiannya saja , namun juga harus dipandang dari fungsi kesenian itu sendiri dalm lingkungannya. Dimaksud dengan fungsi dan kebudayaan bahwa segala aktivitas dalam kebudayaan itu sebenarnya. Bicara masalah fungsi/fungsional, tidak berdiri sendiri, tetapi mempunyai arti, makna serta tujuan yang terkandung di dalamnya.
Adapun beberapa faktor kemunduran yang dapat saya ambil dari berbahasa minang dalam masyarakat Minangkabau adalah: (1) free market yang membuat pandangan masyarakat yang lebih modern (2) Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, (3) , perubahan pada pola pikir masyarakat miangkabau (4) kurangnya perhatian pemerintah terhadap pembudidayaan bahasa minang walupun ada itu hanya sebatas mata pelajaran Muatan Lokal (5) bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi.
Oleh sebab itu kekayaan bahasa minang itu harus diselamatkan. Jika kita tidak bertindak cepat, maka bahasa minang ini akan mudah saja hilang dimakan zaman yang semakin-semakin ini dan maka dapat dipastikan sedikit jejak yang akan tertinggal di masa depan. Kita tidak dapat menyalahkan zaman, namun kitalah yang harus segera bertindak untuk penyelamatan ini. Kita bisa memulai dengan mencatatkan seluruh kosakata, frase, petatah-petitih dan sebagainya atau melaksanakan pengajaran dalam mempertahankan bahasa minang.
BAB III
KESIMPULAN
Kebudayaan Indonesia berakar pada sejarah kebudayaan daerahnya, terutama pada bahasa asli orang yang ada didalamnya karena kunci kebudayan adalah bahasa asli daerah yang menjadi kebanggaan kebudayaan orang yang ada dalamnya. Ada beberapa aspek yang sangat berperan dalam pemeliharaan dan pembinaan bahasa daerah pada saat ini antara lain pentingnya kebersamaan sebagai sub etnik Minangkabau menyadari nilai bahasanya, adanya keinginan para pemerhati bahasa tradisi dalam usaha re-generasi, kemasan kesenian yang menjadi alternative baru dalam mempelajari bahasa daerah.
Walaupun aspek-aspek kebudayaan nasional merupakan bagian integral dalam kehidupan suatu suku bangsa, namun tidak mudah menumbuh kembangkannya sejalan dengan semangat pembangunan ideology, ekonomi ataupun teknologi karena belum adanya kesiapan masyarakat dalam menjalani zaman baru. Sebenarnya teknologi itu diibaratkan seperti pisau tajam, ditangan orang yang cekatan ia menjadi bermanfaat, sebaliknya ditangan orang yang tidak tahu dan tidak bertanggung jawab, ia menimbulkan penderitaan bahkan kematian (memusnahkan kebudayan).
DAFTAR PUSTAKA
http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/brapub/Yasril%20Yunus_00_-pemerintahan%20nagari%20di%20era%20orba.pdf
http://oke.or.id
H. Idrus Hakimi, Dt. Rajo Penghulu, Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau, PT. Remaja Rosdakarya Bandung 1994
Maryelliwati, S.Sn , Pengantar Sastra Daerah Minangkabau, ASKI Padangpanjang 1995
Tidak ada komentar:
Posting Komentar