Selasa, 27 Maret 2012

BENGKEL SENI TRADISIONAL MINANGKABAU (BSTM), 
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS ANDALAS.
YANG MUDA YANG AKAN MENYELAMATKAN KESENIAN TRADISONAL MINANGKABAU
Gairah anak muda mempelajari seni tradisi seakan sedang tumbuh di Sumbar. Rata-rata sanggar atau bengkel seni tradisi di Sumbar, selalu dihuni dan dilakoni anak-anak muda dalam aktivitasnya. Setidaknya, gairah darah muda ini, bisa sedikit menampik anggapan buruk pada generasi android atau gadget terhadap seni tradisi. Awal berdirinya, grup ini hanya mempelajari serta mementaskan tari dan musik tradisi saja. Sebagai pelatihnya didatangkan dari Taman Budaya Sumbar, bernama Edi B. Kemudian, pada perkembangan selanjutnya, ditambahkan dengan randai dan silat.
         Selain tampil mengisi acara-acara di kampus, BSTM juga sering diundang mengisi acara atau kegiatan di luar kampus. Seperti, pertunjukan musik, tari dan randai dalam pertemuan perantau Minang di Kerinci, di TMII Jakarta, kampus ITENAS Bandung. Serta pertunjukan di Negara tetangga Malaysia, Singapura dan Thailand. Sekadar menyebut beberapa nama yang pernah singgah dan berkarya di BSTM, Dasrul, Irwandi, Ritto Unarto, Ilham Halid, Reza Lahardo, Via Chania, Yeni Candra Wati, Yulia, Ririt Sriwahyuni, Rio Johanes, Aldi, Benny Abenk, Ratna, Dwi, Andri Saputra, Aan Kipli, dan banyak lagi. Selain, melatih anggota perangkatan, BSTM juga kerap melatih mahasiswa-mahasiswa dari luar negeri yang belajar ke Unand. Bahkan, bengkel seni tradisi ini pernah memiliki anggota warga Negara Jepang. Mahasiswa yang belajar di Sastra Indonesia ini, yang biasa disapa Ayi itu, ikut bergabung dengan BSTM dan tampil di setiap pertunjukan kala itu. Di Negara asalnya, dia memiliki kepandaian memainkan flute. Di BSTM, dia pun memilih belajar memainkan bansi dan saluang.
        Meskipun hanya sebagai UKM yang bersifat Universitas, tetapi gaung atau pengaruhnya telah terasa di Indonesia, bahkan telah sampai ke luar negeri. Buktinya, pada 30 November hingga 6 Desember 2008 lalu, BSTM melakukan pertunjukan di Singapura dan Malaysia. “Di Singapura selama satu hari dan enam hari di Malaysia. Kami disana hadir dalam mengisi acara kunjungan intelektual mahasiswa Unand ke salah satu Universitas di Singapura dan UITM Malaysia. Pada saat itu, turut hadir mantan Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sastra (BEM FS), mantan Pembantu Rektor III (PR 3) Unand Badrul Mustafa, dan masing-masing Pembantu Dekan III (PD 3) yang ada di Unand. Pada saat itu, 10 orang dari BSTM mengisi acara tersebut,” tutur Andri Syaputra (25) mantan ketua BSTM, yang kini menjadi pelatih dan Steering Commite BSTM. Berikutnya, pada tanggal 7-10 Juli 2010 yang lalu, BSTM mengisi kegiatan di Thailand. “Kami mengisi acara konferensi Crisu-CUPT, yakni temu rektor se-Asia yang ke 5 di Thailand. Pada saat itu, 12 orang dari BSTM mengisi acara tersebut. Kalau ditanya perasaan, kami merasa senang, bangga, dan gembira.
       Namun, di sisi lain, kami mengambil hikmah dari mengisi acara tersebut, yang mana orang luar negeri tersebut kalaupun mengisi acara yang tak terlalu besar, tetapi mereka mempersiapkan dengan profesional, sedangkan kami melakukan persiapan masih setengah-setengah. Meskipun begitu, pertunjukan yang kami berikan berjalan lancar. Pada saat selesai acara di Thailand, Singapura, dan Malaysia, banyak dari mahasiswa terkagum dan bertanya-tanya bagaimana cara melakukan seni pertunjukan oleh BSTM tersebut,” tutur lelaki yang sebentar lagi akan wisuda ini yang akrab dipanggil Andri. Selain di luar negeri, mereka juga pernah mengisi kegiatan di Jakarta dan Bandung. “Di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung dalam rangka temu perantau minang di kota Bandung tersebut, dan di Taman Nasional Indonesia Indah (TMII) Jakarta, kami diberikan sambutan yang baik dari khalayak disana,” tambah lelaki berkulit putih tersebut. Di sisi lain, BSTM sering mengisi acara-acara, di fakultas, universitas, dan acara-acara lainnya. “Di dunia kampus, BSTM sering menjadi wahana dan persembahan seni yang diundang dalam berbagai acara, baik acara akademik hingga acara lainnya yang terselenggara di Unand.
         Contohnya dalam acara-acara seminar, BSTM diundang untuk menampilkan persembahannya sebagai wahana hiburan. BSTM sering tampil dalam acara penyambutan tamu-tamu kehormatan yang berkunjung ke Unand, seperti penyambutan para Dubes Australia, Malaysia, dan lain-lainnya. BSTM tentunya dapat memberikan andil besar dan partisipasinya dalam acara kampus, khususnya Fakultas Sastra. Selain itu, BSTM juga pernah melatih mahasiswa dari Korea,” tutur mantan ketua BSTM lima periode, dari tahun 2005 hingga 2009 tersebut.
Penggagas BSTM terdiri dari Mahasiswa Fakultas Sastra jurusan Sasindo dan Sasda angkatan 98 dan 99, serta Ivan Adillah dosen Sasindo. “BSTM berdiri pada tahun 1999. Penggagasnya antara lain Zulfadli, Ramzul, Remon, Satria, Pak Ivan dosen Sasindo FS Unand, dan lainnya. Pada awalnya, mereka dilatih oleh Edi, anggota dari Indo Jalito,” tuturnya.
Meskipun BSTM telah memiliki jam terbang yang cukup jauh hingga ke luar negeri, namun, untuk menghasilkan karya yang bagus, mereka masih terkendala peralatan, seperti talempong, gandang, tasa, dan sebagainya. Alat-alat musik tradisi yang dipakai sekarang masih warisan dari zaman pertama BSTM berdiri. Kadangkala, juga menyewa dari grup lain. Mantan ketua BSTM periode 2005-2009, Andri Saputra, sangat mengharapkan pihak universitas membantu penyediaan peralatan musik untuk BSTM. Sehingga, mampu mendukung kreativitas mahasiswa yang menjadi anggota BSTM dalam berkarya dan mempelajari seni tradisi. Sementara itu, Al Imran, anggota senior BSTM pernah mengungkapkan, sudah seharusnya pihak Unand mempertimbangkan untuk membantu peralatan BSTM ini. Sebab, selama ini, setiap tamu yang datang ke Unand selalu disambut dalam pertunjukan tradisi oleh BSTM dan menjadi buah bibir para pejabat rektorat, bahwa Unand juga berpartisipasi melestarikan seni tradisi Minangkabau. Sekarang, BSTM yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa jurusan Sastra Daerah (Sasda), Sastra Indonesia, dan Dosen dari Sasindo tersebut, terdiri dari berbagai divisi. “Pertama, Divisi Tari, yang saat ini mempelajari tari Payuang Bapencak, Pasambahan, Galombang, Piriang, Suka Ria, Indang, Rantak, dan Alang Babega, yang menjadi Koordinatornya ialah Dewi Ayunda. Kedua, Divisi Randai, yang cerita randainya terdiri dari Baniah Sisiak Jo Ilalang karya Kanizar Chan, Kaki Takabek Tangan Baelo karya Irwandi, Karang Manis jo Magek Pilihan dan Palito Alam Jo Kambang Bungo editan Singo Barantai, dan yang menjadi Koordinatornya ialah Wahyudi Rahmat.
Yang ke tiga adalah Divisi Musik. Peralatan musiknya terdiri dari melodi dua set, akor dua set, bass/canang dua set, gandang empat set, jimbe satu, bansi, dan saluang, yang menjadi Koordinatornya ialah Aditya Putra Sapta. Sedangkan yang menjadi Ketua BSTM saat ini ialah Fandi Pratama. Untuk anggota pasif maupun aktif terdiri dari 200-an orang,” kata Andri Syaputra selaku mantan ketua BSTM itu. Kegiatan ini, menjadi semacam hobi bagi mereka. Karena itu, mereka melakukan latihan hampir tiap hari di FS Unand. “Kami latihan hari Senin, Kamis, dan Jum’at jam sekitar jam 17.30 WIB, serta Sabtu sekitar jam 10.00 WIB di FS Unand. Jam tersebut dipilih karena umumnya seluruh jajaran BSTM telah selesai kuliah. Sedangkan yang melatihnya ialah anggota lama, dan yang mengaturnya ialah koor-dinator masing-masing. Koordinator mengundang anggota lama, yang mana dari mereka yang akan melatih. Latihan tersebut bertujuan agar pada saat pertunjukan terselenggara, kami selaku mahasiswa yang berkecimpung di BSTM tak kaku di saat pertunjukan itu,” tambahnya.
Sayangnya, gaung BSTM yang tak telah sampai ke taraf internasional tersebut, tak sebanding dengan peralatan yang mereka miliki. “Peralatan yang kami miliki seperti Talempong, Bansi, Gandang, dan lainnya tersebut merupakan peralatan yang masih dari tahun 1999 awal berdirinya BSTM. Hal tersebut berdampak terhadap performa musik yang dihasilkan,” kata Andri dengan nada rendah. Melalui haluan, harapan BSTM yang diwakili oleh Andri tersebut terlontar dengan lancar. “Saya selaku perwakilan dari BSTM berharap agar para pejabat di kalangan Jurusan, Fakultas, dan Universitas, serta instansi lainnya memberikan bantuan kepada BSTM. Kalau tak bisa memberikan bantuan dana, bantuan berupa alat pun kami terima. Kalau memang ada dana, berikanlah dana tersebut kepada BSTM, agar peralatan yang kami miliki baru dan menghasilkan performa musik yang maksimal. Budaya yang kita miliki mesti dilestarikan dan dibantu, jangan sampai Malaysia telah mengambil alih, baru marah-marah,” tutupnya berharap.
Beberapa hasil karya BSTM dapat dilihat di :
1. http://www.youtube.com/watch?v=YmrYNFcq2zs&list=UUiNcOM9iYGoZF-Rd5BnCOtw&index=4&feature=plcp
2. http://www.youtube.com/watch?v=LzmeAnYESoU 
3. http://www.youtube.com/watch?v=vDKBHrtZRCY&list=UUiNcOM9iYGoZF-Rd5BnCOtw&index=13&feature=plcp 
4. http://www.youtube.com/watch?v=PZjwXMN1Z00&list=UUiNcOM9iYGoZF-Rd5BnCOtw&index=12&feature=plcp 
5. http://www.youtube.com/watch?v=PZjwXMN1Z00&list=UUiNcOM9iYGoZF-Rd5BnCOtw&index=12&feature=plcp
PAKAIAN TRADISIONAL MINANGKABAU
Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional, yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya, seperti penghulu dan bundo kanduang, seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak, yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda, namun secara umum terdiri dari destar, baju hitam longgar, celana hitam lebar, sesamping, kain sandang, keris, dan tongkat. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat, terdiri dari destar sebagai penutup kepala. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk, belah sampai ke dada tanpa kancing. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan, walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek, jangko singkek tak dapek panjang, artinya ukur panjang tak dapat singkat, jangka pendek tak dapat singkat. Dikenakan pula kain samping (sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan, untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. Ia haruslah orang yang arif bijaksana, kata-katanya didengar, pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. Ia juga merupakan peti ambon puruak , artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. Seperti juga pada pakaian penghulu, masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk, baju kurung, kain selempang, kain sarung, dan berhiaskan anting-anting serta kalung. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. Baju kurungnya berwarna hitam, merah, biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak, melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya, sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis, menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. Kalung dari beberapa macam, yaitu kalung kuda, kalung pinyaram, kalung gadang, dan kalung kaban. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar), gelang bapahek dan gelang ular. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Pakaian sehari-hari Para wanita, khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar, lambak/kodek atau kain sarung, dan selendang pendek. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. Lambak atau kodek, yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket, batik, sarung bugis ataupun kain pelekat. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. Variasi lain dikenakan tengkuluk, sementara selendang tersampir di bahu. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan, seperi kalung, anting-anting serta cincin. Kaum prianya, sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak, baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. Khusus pada pakaian penghulu, bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun, bertanggan naik, bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih), yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. Sumber : http://www.minangforum.com/Thread-Busana-Tradisional-Minangkabau

Selasa, 23 November 2010

Nama : Wahyudi Rahmat
BP : 0810742010
MK : Wawasan Pariwisata

GOA NGALAU INDAH KOTA PAYAKUMBUH
Goa Ngalau Indah merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang berada di Kota Payakumbuh, Sumatra Barat. Di dalam gua ini, anda bisa melihat stalagmit dan stalagtit yang terbentuk dari proses endapan kapur yang berlangsung ratusan tahun. Namun, kedua hal tersebut mempunyai ukiran beraneka macam bentuk, dengan ornamen-ornamen yang menakjubkan, seperti ruang kamar tidur, kursi, kelambu dan lain sebagainya.
Biasanya di dalam gua adalah gelap, tetapi Gua Ngalau Indah sudah membangun beberapa sarana pendukungnya, seperti lampu penerangan, jalan penghubung dan anak tangga. Tepatnya di depan pintu masuk, anda akan melihat sebuah ukiran dari batu yang menyerupai gajah dan ukiran-ukiran batu yang terpahat indah
. Gua Ngalau Indah beraneka bentuk dan berukir tersebut diberi nama sesuai bentuknya, seperti kursi, kelambu, dan kamar tidur. Bila Anda merasa lelah atau lebih lama ingin menikmati keindahan gua dapat berhenti sejenak dan duduk bersantai di atas batu-batu tersebut
Agar para wistawan dapat menikmati pemandangan Ngalau dengan lebih leluasa, pemerintah setempat membangun beberapa sarana pendukungnya, seperti: lampu penerangan, jalan penghubung dan anak tangga.
Dari atas perbukitaan di sekitar Ngalau, para wisatawan dapat melihat panorama kota Payakumbuh yang terhampar di depan mata. Perpaduan tata bangunan perkotaan, hijaunya pepohonan dan hamparan sawah yang begitu luas merupakan satu kesatuan dari kemilau Kota Payakumbuh. Sedangkan pemandangan di sekitar Ngalau juga tidak kalah menarik. Sebelum masuk ke dalam Ngalau atau tepatnya di depan pintu masuk para wisatawan disambut dengan sebuah ukiran dari batu yang menyerupai gajah. Memasuki Ngalau, para wisatawan akan mendapat suguhan aneka ukiran-ukiran batu yang terpahat di dalam Ngalau. Batuan beraneka bentuk dan berukir tersebut diberi nama sesuai bentuk batunya, seperti: kursi, kelambu, dan kamar tidur. Para pengunjung yang merasa lelah atau lebih lama ingin menikmati keindahan Ngalau tersebut dapat berhenti sejenak dan duduk bersantai di atas batu-batu tersebut. Pada bagian lain Ngalau, terdapat batu tira yang berwarna putih yang apabila terkena sorotan cahaya lampu, dapat memantulkan cahaya kemilau yang begitu indah.
Objek Wisata Ngalau Indah dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi darat. Dari kota Padang ke Payakumbuh, perjalanan ditempuh sekitar 3 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Jika menggunakan angkutan umum, ongkosnya antara Rp.20.000,00 sampai Rp. 25.000,00 per orang. Tiket masuk sebesar berkisar antara Rp. 5000 - Rp. 10.000,- /orang.
Di kota Payakumbuh tersedia beberapa hotel yang cukup nyaman untuk menginap, mulai dari hotel yang berbintang sampai hotel klas melati. Begitu juga dengan tempat makan, di kota ini juga banyak terdapat warung makan yang menyajikan beraneka menu masakan padang.
Untuk semakin menarik pengunjung, manajemen Ngalau indah juga telah mengoperasikan wahana waterboom yang telah resmi dibuka oleh Gumawan Fauzi pada tahun 2008 lalu . Wahana ini merupakan variasi dari wahana air dan wahana kering yang masing-masingnya berjumlah 6 dan 7 permainan. Selain itu Goa Ngalau Indah memberikan perpaduan keindahan panorama alam perbukitan dengan hawa sejuk dan arena permainan anak-anak serta keluarga.
Dari pengenalan yang telah dipaparkan diatas, Goa Ngalau Indah mempunyai potensi dan prospek dalam kepariwisataan besar di Sumatra Barat, soalnya management dalam hal ini pemerintah kota Payakumbuh serius dalam mengatur, mengelola dan mengembangkan Goa Ngalau Indah tresebut.


Sumber : http://ngalau indah/goa-ngalau-indah-kota-payakumbuh-t57.htm
Nama : Wahyudi Rahmat
BP : 0810742010
MK : Wawasan Pariwisata

GOA NGALAU INDAH KOTA PAYAKUMBUH
Goa Ngalau Indah merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang berada di Kota Payakumbuh, Sumatra Barat. Di dalam gua ini, anda bisa melihat stalagmit dan stalagtit yang terbentuk dari proses endapan kapur yang berlangsung ratusan tahun. Namun, kedua hal tersebut mempunyai ukiran beraneka macam bentuk, dengan ornamen-ornamen yang menakjubkan, seperti ruang kamar tidur, kursi, kelambu dan lain sebagainya.
Biasanya di dalam gua adalah gelap, tetapi Gua Ngalau Indah sudah membangun beberapa sarana pendukungnya, seperti lampu penerangan, jalan penghubung dan anak tangga. Tepatnya di depan pintu masuk, anda akan melihat sebuah ukiran dari batu yang menyerupai gajah dan ukiran-ukiran batu yang terpahat indah
. Gua Ngalau Indah beraneka bentuk dan berukir tersebut diberi nama sesuai bentuknya, seperti kursi, kelambu, dan kamar tidur. Bila Anda merasa lelah atau lebih lama ingin menikmati keindahan gua dapat berhenti sejenak dan duduk bersantai di atas batu-batu tersebut
Agar para wistawan dapat menikmati pemandangan Ngalau dengan lebih leluasa, pemerintah setempat membangun beberapa sarana pendukungnya, seperti: lampu penerangan, jalan penghubung dan anak tangga.
Dari atas perbukitaan di sekitar Ngalau, para wisatawan dapat melihat panorama kota Payakumbuh yang terhampar di depan mata. Perpaduan tata bangunan perkotaan, hijaunya pepohonan dan hamparan sawah yang begitu luas merupakan satu kesatuan dari kemilau Kota Payakumbuh. Sedangkan pemandangan di sekitar Ngalau juga tidak kalah menarik. Sebelum masuk ke dalam Ngalau atau tepatnya di depan pintu masuk para wisatawan disambut dengan sebuah ukiran dari batu yang menyerupai gajah. Memasuki Ngalau, para wisatawan akan mendapat suguhan aneka ukiran-ukiran batu yang terpahat di dalam Ngalau. Batuan beraneka bentuk dan berukir tersebut diberi nama sesuai bentuk batunya, seperti: kursi, kelambu, dan kamar tidur. Para pengunjung yang merasa lelah atau lebih lama ingin menikmati keindahan Ngalau tersebut dapat berhenti sejenak dan duduk bersantai di atas batu-batu tersebut. Pada bagian lain Ngalau, terdapat batu tira yang berwarna putih yang apabila terkena sorotan cahaya lampu, dapat memantulkan cahaya kemilau yang begitu indah.
Objek Wisata Ngalau Indah dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi darat. Dari kota Padang ke Payakumbuh, perjalanan ditempuh sekitar 3 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Jika menggunakan angkutan umum, ongkosnya antara Rp.20.000,00 sampai Rp. 25.000,00 per orang. Tiket masuk sebesar berkisar antara Rp. 5000 - Rp. 10.000,- /orang.
Di kota Payakumbuh tersedia beberapa hotel yang cukup nyaman untuk menginap, mulai dari hotel yang berbintang sampai hotel klas melati. Begitu juga dengan tempat makan, di kota ini juga banyak terdapat warung makan yang menyajikan beraneka menu masakan padang.
Untuk semakin menarik pengunjung, manajemen Ngalau indah juga telah mengoperasikan wahana waterboom yang telah resmi dibuka oleh Gumawan Fauzi pada tahun 2008 lalu . Wahana ini merupakan variasi dari wahana air dan wahana kering yang masing-masingnya berjumlah 6 dan 7 permainan. Selain itu Goa Ngalau Indah memberikan perpaduan keindahan panorama alam perbukitan dengan hawa sejuk dan arena permainan anak-anak serta keluarga.
Dari pengenalan yang telah dipaparkan diatas, Goa Ngalau Indah mempunyai potensi dan prospek dalam kepariwisataan besar di Sumatra Barat, soalnya management dalam hal ini pemerintah kota Payakumbuh serius dalam mengatur, mengelola dan mengembangkan Goa Ngalau Indah tresebut.


Sumber : http://ngalau indah/goa-ngalau-indah-kota-payakumbuh-t57.htm
KRITIK SASTRA

HAL-HAL YANG MENARIK DALAM CERPEN CLARA WANITA YANG DIPERKOSA
KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA




OLEH :
Wahyudi Rahmat
0810742010



SASTRA DAERAH MINANGKABAU
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS ANDALAS
2010
HAL-HAL YANG MENARIK DALAM CERPEN CLARA WANITA YANG DIPERKOSA
KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA

Cerpen “Clara atawa Wanita yang Diperkosa menjadi sangat menarik perhatian karena mencoba menggambarkan sebuah sisi kejadian yang terjadi pada masa peralihan tampuk pimpinan dari masa Orde Baru menuju masa reformasi. Ada pemaknaan identitas, ada nasionalisme keindonesiaan, ada nuansa pribumi dan non-pribumi, dan yang paling penting adalah siapa sebenarnya yang memenangkan pertaruhan kenasionalan keindonesiaan tersebut.
Clara atawa Wanita yang Diperkosa: Sebuah Ironi Nasionalisme Keindonesiaan Pergulatan nasionalisme keindonesiaan dan identitas menjadi sangat kental dalam cerpen “Clara atawa Wanita yang Diperkosa” karya Seno Gumira Ajidarma ini. Di dalam cerpen ini, penulis cerpen menempatkan dua kesimpulan nyata yang mewakili identitas yang bertolak belakang dan berada pada kutubnya masing-masing. Di satu sisi, Clara –si wanita Cina itu– mendapati dirinya dilahirkan sebagai kulit kuning, bermata sipit, dan orang-orang menyebutnya Cina. Dan apabila meminjam dikotomi pribumi dan non-pribumi, Clara –tidak bisa dipungkiri lagi– ada dalam posisi non-pribumi.
Sementara di sisi yang lain, sang petugas dan sang pemerkosa dengan segala ciri-cirinya mewakili posisi pribumi di dalamnya, karena sang petugas adalah orang yang berwenang menerima laporan dari warga negara dan wajib melaporkannya kepada atasnya meski dia melaporkannya disesuaikan dengan kebutuhan. Sedangkan para pemerkosanya, mewakili kaum pribumi kelas bawah dengan yaitu dengan kaki-kaki lusuh dan berdaki yang hanya mengenakan sandal jepit, sebagian besar tidak beralas kaki, hanya satu yang memakai sepatu. Kaki-kaki mereka berdaki dan penuh dengan lumpur yang sudah mengering.
Clara Clara memang dilahirkan di Indonesia. Dia juga tumbuh, berkembang, dan dibesarkan di negeri Indonesia. Clara tidak bisa mengingkari keberadaannya, bahwa dia tetap Cina, setidaknya dari sisi genetis. Dengan kegigihannya dia berusaha meleburkan diri dalam hiruk pikuk kehidupan negeri di mana dia tinggali. Apa yang dia lakukan pun juga didasarkan pemikiran demi kebaikan negeri ini. Dengan kata lain, sesungguhnya dia berkehendak untuk menjadi bagian integral dari dinamika negeri Indonesia, tetapi tetap saja semua karakteristik fisik yang melekat di dirinya tak mengubah stigma buruk tentang ke-Cina-annya. Dari sisi identitas, tidak dipungkiri bahwa karakteristik fisik Clara adalah Cina. Meski begitu, dengan sangat jelas dia mengatakan bahwa dia adalah orang Indonesia.
Dari sisi identitas, Clara adalah figur yang tidak memandang beda antara dirinya yang Cina dengan orang-orang lain di sekelilingnya yang notabene bisa disebut pribumi. Dikotomi pribumi dan nonpribumi tidak dikenal dalam hidupnya. Untuk itu, Clara menjalani kehidupannya dengan sangat terbuka untuk menerima hubungan dengan siapapun. Bahkan, Clara berpacaran dengan seorang lelaki keturunan Jawa. Meskipun Clara dilahirkan sebagai orang Cina yang hidup di Indonesia, Clara mempunyai rasa nasionalisme keindonesiaan yang tinggi. Clara sangat tahu bahasa Indonesia, selain bahasa Inggris untuk kebutuhannya berdagang atau berbisnis. Pemahaman akan bahasa ini juga justru diakui oleh petugas yang dilapori oleh Clara. Dia bercerita dengan bahasa yang tidak mungkin dimengerti. Bukan karena bahasa Indonesianya kurang bagus, karena bahasa itu sangat dikuasainya, tapi karena apa yang dialami dan dirasakannya seolah- olah tidak terkalimatkan.
Sikap nasionalisnya yang tinggi terhadap Indonesia juga ditunjukkan dalam hal bahasa. Bahasa Indonesia, dalam kaca mata Clara masih kurang cukup bisa untuk menyediakan kosakata yang mampu mengungkapkan suatu perasaan dengan sedemikian variatif tetapi komprehensif dan tepat. Mungkin kita sendiri bangsa Indonesia, yang katanya juga menjungjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia, masih kurang menyadari kekurangan itu. Yaitu, di kala Clara begitu ingin mengungkapkan perasaannya yang sangat sakit, terhina, rasa pahit, dan rasa terlecehkan yang dialami oleh seorang wanita yang diperkosa secara bergiliran oleh banyak orang. Mari kita pikirkan bersama tentang keberadaan bahasa Indonesia kita.Saya bukan ahli bahasa, bukan pula penyair. Saya tidak tahu apakah di dalam kamus besar Bahasa Indonesia ada kata yang bisa mengungkapkan rasa sakit, rasa terhina, rasa pahit, dan rasa terlecehkan yang dialami seorang wanita yang diperkosa bergiliran oleh banyak orang –karena dia seorang wanita Cina.
‘Barangkali aku seorang anjing. Barangkali aku seorang babi’ merupakan penggambaran yang sangat pas oleh Seno Gumira Ajidarma untuk menunjukkan keberadaan petugas dalam cerpen ini. Selain sifat-sifat baik yang dimiliki oleh anjing dan babi, tentunya juga memiliki sifat yang jelek. Anjing, misalnya, selain setia dan melindungi, tetapi juga dengan tingkat proteksi yang sangat tinggi –hingga mungkin berlebihan– menjadikan anjing over-protecting. Anjing akan selalu menggonggong apabila ada orang atau hewan lain yang dianggap akan menyerang atau mengganggu keselamatannya. Bagi seorang petugas, mestinya memang dia harus menjalankan tugas mirip seekor anjing yang waspada untuk semua ancaman dan gangguan yang mungkin terjadi. Tetapi karena petugas ini bertindak diskriminatif, dia tidak objektif melihat siapa yang datang melapor padanya. Dia menggonggong lebih keras kepada wanita yang sebenarnya berambut coklat, meski menurut kebanyakan orang wanita ini berambut merah.
Sebagai seorang babi, tentunya, sebuah perumpamaan bagi sifat yang jorok dan rakus. Babi mencari makan di tempat-tempat yang jorok. Biasanya mereka akan berada di kubangan air yang sangat kotor dan bau untuk mencari makan. Babi juga berendam berlama-lama di kubangan itu, yang menjadikan tubuhnya bukan menjadi bersih, tetapi justru tambah kotor. Babi juga perumpamaan dari sifat kerakusan. Apabila sudah mendapatkan makanan, di manapun dia dapatkan, babi akan berupaya untuk mendapatkan makanan tersebut semaksimal mungkin. Dia tidak akan pergi apabila bila belum merasa cukup, dan dia akan terus mencari sampai dia merasa cukup. Saking rakusnya, apabila sedang mengejar sesuatu, babi hanya bisa berjalan/berlari lurus. Dalam berlarinya, babi tidak gesit untuk berbelok-belok sehingga mengesankan dia ingin segera mendapatkan apa yang diinginkannya, meski justru biasanya malah tidak mudah meraih apa yang diinginkannya.Dalam kaitan babi dengan petugas, dalam cerpen ini, petugas mencoba untuk bertindak ‘lurus’ menyesuaikan dengan prosedur yang harus dilaksanakan sebagai seorang petugas.
Pemerkosa Memandang sedemikian benci kepada Cina, bahkan menganiaya serta memperkosa (atau mungkin sebagian ada membantai dan membunuhnya) seperti yang dilakukan oleh para pemerkosa adalah perwujudan pembedaan yang nyata. Terlepas dari kontroversi apakah didalangi orang lain ataukah karena inisiatif sendiri, para pemerkosa yang dipekirakan 25 orang ini sangatlah eksklusif memandang identitas mereka dengan orang-orang Cina. Mereka begitu antipati dengan orang-orang Cina. Dengan berbagai latar belakang yang mendasari perbuatan mereka, para pemerkosa melampiaskan kekesalan yang telah dipendam sekian lama. Sehingga pada saat ada kesempatan, mereka bertindak. Dan tindakan itu terasa sangat brutal.
. Penutup Identitas nasionalisme keindonesiaan menjadi ironi dalam cerpen Clara atawa Wanita yang Diperkosa. Di satu sisi Clara, tokoh utama dalam cerita ini, dengan identitas ke-Cina-annya yang telah berubah menjadi inklusif menjadi begitu lebih nasionalis dan menjunjung tinggi rasa keindonesiaannya apabila dibandingkan dengan petugas dan para pemerkosa. Clara berusaha memandang dirinya, yang Cina –nonpribumi– dan lingkungannya, yang pribumi, sebagai sesuatu yang sama. Sesuatu yang setara, sesuatu yang seimbang. Bahkan dalam memainkan perannya, sebagai usahawan, Clara masih tetap berusaha untuk mempertahankan perusahaannya dari kebangkrutan. Semua usaha ini hanya didasarkan pada perhatiannya kepada karyawannya yang sebagian besar adalah masyarakat pribumi.Di sisi lain, petugas dan para pemerkosa memandang sedemikian benci kepada orang Cina. Mereka sama-sama berpikir ekslusif dalam memandang diri mereka dengan lingkungan (Cina) di sekelilingnya.
Diskriminasi oleh petugas menyebabkan Clara semakin mendapatkan kesulitan. Dengan kebenciannya kepada orang-orang kaya –apalagi Cina– si petugas yang sudah terlanjur menerima sogokan dan bentuk-bentuk suap lainnya yang illegal, masih juga ingin kaya. Bahkan dengan nafsu kebinatangannya, yang diibaratkan dengan anjing dan babi, ingin memperkosa Clara. Dia melupakan statusnya sebagai petugas, yang berseragam. Sedangkan para pemerkosa mungkin hanya mencoba menumpahkan kebenciannya kepada orang-orang Cina. Meski begitu, tetap saja mereka memandang eksklusif orang Cina.Yang terjadi adalah pergulatan identitas. Permasalahan nasionalisme keindonesiaan tidak bisa dipertemukan di antara pergulatan identitas ini. Apabila permasalahan identitas ini sudah bisa terselesaikan, maka lebih mudahlah untuk membangun dan memperkokoh nasionalisme

Sumber : cerpenclara.pdf

Jumat, 19 November 2010

UNSUR- UNSUR INTRINSIK PROSA

Posted by abdurrosyid in Hobiku Menulis.
Tags: alur, amanat, cerpen, gaya bahasa, intrinsik, latar, novel, plot, prosa, setting, sudut pandang, tema, tokoh, unsur
trackback
Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik dalam sebuah karya sastra adalah unsur-unsur pembangun karya sastra yang dapat ditemukan di dalam teks karya sastra itu sendiri. Untuk karya sastra dalam bentuk prosa, seperi roman, novel, dan cerpen, unsur-unsur intrinsiknya ada tujuh: 1) tema, 2) amanat, 3) tokoh, 4) alur (plot), 5) latar (setting), 6) sudut pandang, dan 7) gaya bahasa.
1. Tema
Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Atau gampangnya, tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sesuatu yang menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita.
Tema merupakan jiwa dari seluruh bagian cerita. Karena itu, tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita. Tema dalam banyak hal bersifat ”mengikat” kehadiran atau ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu, termasuk pula berbagai unsur intrinsik yang lain.
Tema ada yang dinyatakan secara eksplisit (disebutkan) dan ada pula yang dinyatakan secara implisit (tanpa disebutkan tetapi dipahami).
Dalam menentukan tema, pengarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: minat pribadi, selera pembaca, dan keinginan penerbit atau penguasa.
Dalam sebuah karya sastra, disamping ada tema sentral, seringkali ada pula tema sampingan. Tema sentral adalah tema yang menjadi pusat seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita. Adapun tema sampingan adalah tema-tema lain yang mengiringi tema sentral.
2) Amanat
Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Sebagaimana tema, amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku atau peristiwa yang terjadi pada tokoh menjelang cerita berakhir, dan dapat pula disampaikan secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, atau larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.
3) Tokoh
Tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakuan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, namun dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan.
Tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita.
Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Tokoh sentral protagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif.
2. Tokoh sentral antagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
Adapun tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Tokoh andalan. Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh sentral (baik protagonis ataupun antagonis).
2. Tokoh tambahan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
3. Tokoh lataran. Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.
Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Ada dua metode penyajian watak tokoh, yaitu:
1. Metode analitis/langsung/diskursif, yaitu penyajian watak tokoh dengan cara memaparkan watak tokoh secara langsung.
2. Metode dramatik/tak langsung/ragaan, yaitu penyajian watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat pula dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh.
Adapun menurut Jakob Sumardjo dan Saini KM, ada lima cara menyajikan watak tokoh, yaitu:
1. Melalui apa yang diperbuatnya, tindakan-tindakannya, terutama bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis.
2. Melalui ucapana-ucapannya. Dari ucapan kita dapat mengetahui apakah tokoh tersebut orang tua, orang berpendidikan, wanita atau pria, kasar atau halus.
3. Melalui penggambaran fisik tokoh.
4. Melalui pikiran-pikirannya
5. Melalui penerangan langsung
4) Alur (Plot)
Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita. Alur dapat disusun berdasarkan tiga hal, yaitu:
1. Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Alur yang demikian disebut alur linear.
2. Berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal). Alur yang demikian disebut alur kausal.
3. Berdasarkan tema cerita. Alur yang demikian disebut alur tematik. Dalam cerita yang beralur tematik, setiap peristiwa seolah-olah berdiri sendiri. Kalau salah satu episode dihilangkan cerita tersebut masih dapat dipahami.
Adapun struktur alur adalah sebagai berikut:
1. Bagian awal, terdiri atas: 1) paparan (exposition), 2) rangsangan (inciting moment), dan 3) gawatan (rising action).
2. Bagian tengah, terdiri atas: 4) tikaian (conflict), 5) rumitan (complication), dan 6) klimaks.
3. Bagian akhir, terdiri atas: 7) leraian (falling action), dan 8- selesaian (denouement).
Dalam membangun alur, ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan agar alur menjadi dinamis. Faktor-faktor penting tersebut adalah:
1. Faktor kebolehjadian. Maksudnya, peristiwa-peristiwa cerita sebaiknya tidak selalu realistik tetapi masuk akal.
2. Faktor kejutan. Maksudnya, peristiwa-peristiwa sebaiknya tidak dapat secara langsung ditebak / dikenali oleh pembaca.
3. Faktor kebetulan. Yaitu peristiwa-peristiwa tidak diduga terjadi, secara kebetulan terjadi.
Kombinasi atau variasi ketiga faktor tersebutlah yang menyebabkan alur menjadi dinamis.
Adapun hal yang harus dihindari dalam alur adalah lanturan (digresi). Lanturan adalah peristiwa atau episode yang tidak berhubungan dengan inti cerita atau menyimpang dari pokok persoalan yang sedang dihadapi dalam cerita.
5. Latar (setting)
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, suasana, dan situasi terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok:
a. Latar tempat, mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
b. Latar waktu, berhubungan dengan masalah ‘kapan’ terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
c. Latar sosial, mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial bisa mencakup kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta status sosial.
6. Sudut pandang (point of view)
Sudut pandang adalah cara memandang dan menghadirkan tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Dalam hal ini, ada dua macam sudut pandang yang bisa dipakai:
a. Sudut pandang orang pertama (first person point of view)
Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang orang pertama, ‘aku’, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si ‘aku’ tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar, dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si ‘aku’ tersebut.
Sudut pandang orang pertama masih bisa dibedakan menjadi dua:
1. ‘Aku’ tokoh utama. Dalam sudut pandang teknik ini, si ‘aku’ mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniyah, dalam diri sendiri, maupun fisik, dan hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si ‘aku’ menjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si ‘aku’, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian, si ‘aku’ menjadi tokoh utama (first person central).
2. ‘Aku’ tokoh tambahan. Dalam sudut pandang ini, tokoh ‘aku’ muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first pesonal peripheral). Tokoh ‘aku’ hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian ”dibiarkan” untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si ‘aku’ tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah. Dengan demikian si ‘aku’ hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si ‘aku’ pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita.
b. Sudut pandang orang ketiga (third person point of view)
Dalam cerita yang menpergunakan sudut pandang orang ketiga, ‘dia’, narator adalah seorang yang berada di luar cerita, yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti.
Sudut pandang ‘dia’ dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya:
1. ‘Dia’ mahatahu. Dalam sudut pandang ini, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ‘dia’ tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh ‘dia’ yang satu ke ‘dia’ yang lain, menceritakan atau sebaliknya ”menyembunyikan” ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata.
2. ‘Dia’ terbatas (‘dia’ sebagai pengamat). Dalam sudut pandang ini, pengarang mempergunakan orang ketiga sebagai pencerita yang terbatas hak berceritanya, terbatas pengetahuannya (hanya menceritakan apa yang dilihatnya saja).
7. Gaya bahasa
Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Pengolahan bahasa harus didukung oleh diksi (pemilihan kata) yang tepat. Namun, diksi bukanlah satu-satunya hal yang membentuk gaya bahasa.
Gaya bahasa merupakan cara pengungkapan yang khas bagi setiap pengarang. Gaya seorang pengarang tidak akan sama apabila dibandingkan dengan gaya pengarang lainnya, karena pengarang tertentu selalu menyajikan hal-hal yang berhubungan erat dengan selera pribadinya dan kepekaannya terhadap segala sesuatu yang ada di sekitamya.
Gaya bahasa dapat menciptakan suasana yang berbeda-beda: berterus terang, satiris, simpatik, menjengkelkan, emosional, dan sebagainya. Bahasa dapat menciptakan suasana yang tepat ba
Cerita Rakyat
Menurut Djames Danandjaja, 'cerita rakyat' ialah ekspresi budaya bagi suatu masyarakat melalui bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya seperti agama dan kepercayaan, undang-undang, kegiatan ekonomi, sistem kekeluargaan dan susunan nilai sosial masyarakat tersebut.
Menurut Harun Mat Piah, pengertian "rakyat" di sini merujuk lapisan masyarakat atau bangsa yang dikenali sebagai "orang kebanyakan", rakyat jelata, rakyat murba, orang awam atau marhaen. Sementara dalam maksud yang tersirat, lebih menjurus ciri-ciri tradisional.
Dan yang paling menarik lagi, menurut Djames Danandjaja lagi, di antara ciri-ciri cerita rakyat, antara lain:
• Penyebaran dan pewarisan biasanya dilakukan secara lisan
• Bersifat tradisional, iaitu hidup dalam sesuatu kebudayaan dalam waktu tidak kurang daripada dua generasi
• Kerana sifat kelisanannya, cerita-cerita rakyat wujud dalam berbagai-bagai versi. Ini disebabkan oleh proses penyebaran yang melalui pertuturan. Walau bagaimanapun, perbezaan versi ini berlaku hanya pada bahagian luaran, sedang dasarnya tetap bertahan
• Bersifat anonim, yakni penciptanya tidak diketahui lagi. Maka ia menjadi milik bersama dalam masyarakatnya
• Mempunyai fungsi tertentu dalam masyarakatnya atau kebudayaannya, misalnya sebagai alat pendidikan, pengajaran moral, hiburan, proses sosial dan sebagainya
• Bersifat pralogis, yakni mempunyai logika tersendiri yang berlainan daripada logika umum
• Bersifat sederhana dan seadanya, terlalu spontan dan kadangkala kelihatan kasar, seperti ada yang terlihat pada anekdot dan sebahagian cerita jenaka
Menurut beliau, cerita-cerita rakyat mengisahkan tentang terjadinya berbagai hal, seperti terjadinya alam semesta, manusia pertama, kematian, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam tertentu, tokoh sakti yang lahir dari perkahwinan sumbang, tokoh pembawa kebudayaan, makanan pokok (seperti padi, jagung, sagu, dan sebagainya), asal-mula nama suatu daerah, atau tempat, tarian, upacara, binatang tertentu, dan lain-lain. Adapun tokoh-tokoh dalam cerita rakyat sering ditampilkan dalam berbagai wujud, baik berupa binatang, manusia maupun dewa, yang kesemuanya disifatkan seperti manusia. Cerita rakyat sebegini mendapat perhatian masyarakat dari generasi ke generasi yang seterusnya kerana ianya dapat dijadikan sebagai suri teladan dan pelipur lara, serta bersifat jenaka. Biasanya cerita rakyat mengandungi pendidikan moral, ajaran budi pekerti dan hiburan bagi masyarakat pendukung.
PASAMBAHAN MAMINANG DI KENAGARIAN MUNGKA KECAMATAN MUNGKA KABUPATEN 50 KOTO




OLEH :

Wahyudi Rahmat



SASTRA DAERAH MINANGKABAU
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS ANDALAS
2010

SETELAH MELAKUKAN PESAMBAHAN MINUM DAN MAKAN MAKA BARULAH MASUK DALAM PASAMBAHAN MAMINANG

“ Orang yang datang memulai pembicaraan mengenai pinangan kepada si pangkalan “

1. Assalamualikum warahmatullahiwabarokatuh
2. Datuak ………………, disombah datuak
3. Sungguahpun datuak sorang nan taimbau tasobuk gola
4. Karono datuak timbangan adat jo pusoko
5. Tangkai katian tampuak naraca
6. Pucuak usoli dalam kampuang
7. Duduak mahadang jo mufokat
8. Andiko sakaji datuak, ambo ko mandalangkah sombah

9. Adopun sombah nan kadidatangan ka datuak
10. Dek tonang palito hati, Nan oniang saribu aka
11. Olah diinok dimonuangkan, ambo mandonga koba buni
12. Datuak manaruah omeh puro saroto jo intan baralian
13. Kami nan datang mangondakan
14. Ka bontuak cincin dek kami
15. Pakaian jari potang pagi, pamenan mato siang malam
16. Ka payuang ponji kasarugo
17. Ka imbiang-imbiang madinah
18. Padeknyo rundiang sado itu
19. Kabua dek datuaklah handaknyo




“ Membalas si pangkalan atas permintaan orang nan datang “

20. Lah sampai dek datuak ( sampai tuak )
21. Sapanjang rundiang dari datuak
22. Jikok diagak dimonuangan, Dipikia sahabih aka
23. Diagak dipikai dimonuangkan
24. Di ayun jo kiro-kiro, Di lapeh jo budi aluh
25. Di runuk poham nan budiman
26. Tidak lain tidaklah bukan
27. Alah dalam dugaan hati
28. Sapo biaso basahuti, tanyo bakondak mintak dijawab
29. Ka jawab pulo dek kami
30. Kami indak manaruah omeh puro
31. Hanyolah Loyang pamikiran
32. Hanyo baitu bontuak barang
33. Bakondak datuak ka kami
34. Olah bapikia saponuah aka, saponuah budi
35. Olah di inok di monuangkan

36. Kok manyosa datuak kamudian
37. Sobab dek barang kurang elok
38. Hanyo baitu di nan ado
39. Koknyo dek kami nan sipangkalan
40. Buah masak julukan tibo
41. Mungkin ka gugua dari tampuak sapanjang kato nan dating
42. Dek kami rundiang batarimo
43. Olah kasonang hati datuak
44. Baitu rundiang kasaponyo

Dalam kegiatan maminang di Mungka, tradisi batuka tando, batimbang tando, basaluak tando dan malatak tando masih ada dalam prosesnya.

Narasumber : Datuak Buyuang Ma’ruf ( kira-kira 65 tahun )
Nagari : Mungka, Kec. Mungka Kab. 50 kota
Kesimpulannya adalah Dalam tiap masyarakat dengan susunan kekerabatan bagaimanapun, perkawinan memerlukan penyesuaian dalam banyak hal. Perkawinan menimbulkan hubungan baru tidak saja antara pribadi yang bersangkutan, antara marapulai dan anak dara tetapi juga antara kedua keluarga. Dalam proses maminang Pada hari yang telah ditentukan, pihak keluarga anak gadis yang akan dijodohkan itu dengan dipimpin oleh mamak mamaknya datang bersama-sama kerumah keluarga calon pemuda yang dituju. Lazimnya untuk acara pertemuan resmi pertama ini diikuti oleh ibu dan ayah si gadis dan diiringkan oleh beberapa orang wanita yang patut-patut dari keluarganya. Dan biasanya rombongan yang datang juga telah membawa seorang juru bicara yang mahir berbasa-basi dan fasih berkata-kata untuk melaksanakan kegiatan untuk memintak anak dari sipangkalan untuk di pinang.