Selasa, 27 Maret 2012

BENGKEL SENI TRADISIONAL MINANGKABAU (BSTM), 
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS ANDALAS.
YANG MUDA YANG AKAN MENYELAMATKAN KESENIAN TRADISONAL MINANGKABAU
Gairah anak muda mempelajari seni tradisi seakan sedang tumbuh di Sumbar. Rata-rata sanggar atau bengkel seni tradisi di Sumbar, selalu dihuni dan dilakoni anak-anak muda dalam aktivitasnya. Setidaknya, gairah darah muda ini, bisa sedikit menampik anggapan buruk pada generasi android atau gadget terhadap seni tradisi. Awal berdirinya, grup ini hanya mempelajari serta mementaskan tari dan musik tradisi saja. Sebagai pelatihnya didatangkan dari Taman Budaya Sumbar, bernama Edi B. Kemudian, pada perkembangan selanjutnya, ditambahkan dengan randai dan silat.
         Selain tampil mengisi acara-acara di kampus, BSTM juga sering diundang mengisi acara atau kegiatan di luar kampus. Seperti, pertunjukan musik, tari dan randai dalam pertemuan perantau Minang di Kerinci, di TMII Jakarta, kampus ITENAS Bandung. Serta pertunjukan di Negara tetangga Malaysia, Singapura dan Thailand. Sekadar menyebut beberapa nama yang pernah singgah dan berkarya di BSTM, Dasrul, Irwandi, Ritto Unarto, Ilham Halid, Reza Lahardo, Via Chania, Yeni Candra Wati, Yulia, Ririt Sriwahyuni, Rio Johanes, Aldi, Benny Abenk, Ratna, Dwi, Andri Saputra, Aan Kipli, dan banyak lagi. Selain, melatih anggota perangkatan, BSTM juga kerap melatih mahasiswa-mahasiswa dari luar negeri yang belajar ke Unand. Bahkan, bengkel seni tradisi ini pernah memiliki anggota warga Negara Jepang. Mahasiswa yang belajar di Sastra Indonesia ini, yang biasa disapa Ayi itu, ikut bergabung dengan BSTM dan tampil di setiap pertunjukan kala itu. Di Negara asalnya, dia memiliki kepandaian memainkan flute. Di BSTM, dia pun memilih belajar memainkan bansi dan saluang.
        Meskipun hanya sebagai UKM yang bersifat Universitas, tetapi gaung atau pengaruhnya telah terasa di Indonesia, bahkan telah sampai ke luar negeri. Buktinya, pada 30 November hingga 6 Desember 2008 lalu, BSTM melakukan pertunjukan di Singapura dan Malaysia. “Di Singapura selama satu hari dan enam hari di Malaysia. Kami disana hadir dalam mengisi acara kunjungan intelektual mahasiswa Unand ke salah satu Universitas di Singapura dan UITM Malaysia. Pada saat itu, turut hadir mantan Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sastra (BEM FS), mantan Pembantu Rektor III (PR 3) Unand Badrul Mustafa, dan masing-masing Pembantu Dekan III (PD 3) yang ada di Unand. Pada saat itu, 10 orang dari BSTM mengisi acara tersebut,” tutur Andri Syaputra (25) mantan ketua BSTM, yang kini menjadi pelatih dan Steering Commite BSTM. Berikutnya, pada tanggal 7-10 Juli 2010 yang lalu, BSTM mengisi kegiatan di Thailand. “Kami mengisi acara konferensi Crisu-CUPT, yakni temu rektor se-Asia yang ke 5 di Thailand. Pada saat itu, 12 orang dari BSTM mengisi acara tersebut. Kalau ditanya perasaan, kami merasa senang, bangga, dan gembira.
       Namun, di sisi lain, kami mengambil hikmah dari mengisi acara tersebut, yang mana orang luar negeri tersebut kalaupun mengisi acara yang tak terlalu besar, tetapi mereka mempersiapkan dengan profesional, sedangkan kami melakukan persiapan masih setengah-setengah. Meskipun begitu, pertunjukan yang kami berikan berjalan lancar. Pada saat selesai acara di Thailand, Singapura, dan Malaysia, banyak dari mahasiswa terkagum dan bertanya-tanya bagaimana cara melakukan seni pertunjukan oleh BSTM tersebut,” tutur lelaki yang sebentar lagi akan wisuda ini yang akrab dipanggil Andri. Selain di luar negeri, mereka juga pernah mengisi kegiatan di Jakarta dan Bandung. “Di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung dalam rangka temu perantau minang di kota Bandung tersebut, dan di Taman Nasional Indonesia Indah (TMII) Jakarta, kami diberikan sambutan yang baik dari khalayak disana,” tambah lelaki berkulit putih tersebut. Di sisi lain, BSTM sering mengisi acara-acara, di fakultas, universitas, dan acara-acara lainnya. “Di dunia kampus, BSTM sering menjadi wahana dan persembahan seni yang diundang dalam berbagai acara, baik acara akademik hingga acara lainnya yang terselenggara di Unand.
         Contohnya dalam acara-acara seminar, BSTM diundang untuk menampilkan persembahannya sebagai wahana hiburan. BSTM sering tampil dalam acara penyambutan tamu-tamu kehormatan yang berkunjung ke Unand, seperti penyambutan para Dubes Australia, Malaysia, dan lain-lainnya. BSTM tentunya dapat memberikan andil besar dan partisipasinya dalam acara kampus, khususnya Fakultas Sastra. Selain itu, BSTM juga pernah melatih mahasiswa dari Korea,” tutur mantan ketua BSTM lima periode, dari tahun 2005 hingga 2009 tersebut.
Penggagas BSTM terdiri dari Mahasiswa Fakultas Sastra jurusan Sasindo dan Sasda angkatan 98 dan 99, serta Ivan Adillah dosen Sasindo. “BSTM berdiri pada tahun 1999. Penggagasnya antara lain Zulfadli, Ramzul, Remon, Satria, Pak Ivan dosen Sasindo FS Unand, dan lainnya. Pada awalnya, mereka dilatih oleh Edi, anggota dari Indo Jalito,” tuturnya.
Meskipun BSTM telah memiliki jam terbang yang cukup jauh hingga ke luar negeri, namun, untuk menghasilkan karya yang bagus, mereka masih terkendala peralatan, seperti talempong, gandang, tasa, dan sebagainya. Alat-alat musik tradisi yang dipakai sekarang masih warisan dari zaman pertama BSTM berdiri. Kadangkala, juga menyewa dari grup lain. Mantan ketua BSTM periode 2005-2009, Andri Saputra, sangat mengharapkan pihak universitas membantu penyediaan peralatan musik untuk BSTM. Sehingga, mampu mendukung kreativitas mahasiswa yang menjadi anggota BSTM dalam berkarya dan mempelajari seni tradisi. Sementara itu, Al Imran, anggota senior BSTM pernah mengungkapkan, sudah seharusnya pihak Unand mempertimbangkan untuk membantu peralatan BSTM ini. Sebab, selama ini, setiap tamu yang datang ke Unand selalu disambut dalam pertunjukan tradisi oleh BSTM dan menjadi buah bibir para pejabat rektorat, bahwa Unand juga berpartisipasi melestarikan seni tradisi Minangkabau. Sekarang, BSTM yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa jurusan Sastra Daerah (Sasda), Sastra Indonesia, dan Dosen dari Sasindo tersebut, terdiri dari berbagai divisi. “Pertama, Divisi Tari, yang saat ini mempelajari tari Payuang Bapencak, Pasambahan, Galombang, Piriang, Suka Ria, Indang, Rantak, dan Alang Babega, yang menjadi Koordinatornya ialah Dewi Ayunda. Kedua, Divisi Randai, yang cerita randainya terdiri dari Baniah Sisiak Jo Ilalang karya Kanizar Chan, Kaki Takabek Tangan Baelo karya Irwandi, Karang Manis jo Magek Pilihan dan Palito Alam Jo Kambang Bungo editan Singo Barantai, dan yang menjadi Koordinatornya ialah Wahyudi Rahmat.
Yang ke tiga adalah Divisi Musik. Peralatan musiknya terdiri dari melodi dua set, akor dua set, bass/canang dua set, gandang empat set, jimbe satu, bansi, dan saluang, yang menjadi Koordinatornya ialah Aditya Putra Sapta. Sedangkan yang menjadi Ketua BSTM saat ini ialah Fandi Pratama. Untuk anggota pasif maupun aktif terdiri dari 200-an orang,” kata Andri Syaputra selaku mantan ketua BSTM itu. Kegiatan ini, menjadi semacam hobi bagi mereka. Karena itu, mereka melakukan latihan hampir tiap hari di FS Unand. “Kami latihan hari Senin, Kamis, dan Jum’at jam sekitar jam 17.30 WIB, serta Sabtu sekitar jam 10.00 WIB di FS Unand. Jam tersebut dipilih karena umumnya seluruh jajaran BSTM telah selesai kuliah. Sedangkan yang melatihnya ialah anggota lama, dan yang mengaturnya ialah koor-dinator masing-masing. Koordinator mengundang anggota lama, yang mana dari mereka yang akan melatih. Latihan tersebut bertujuan agar pada saat pertunjukan terselenggara, kami selaku mahasiswa yang berkecimpung di BSTM tak kaku di saat pertunjukan itu,” tambahnya.
Sayangnya, gaung BSTM yang tak telah sampai ke taraf internasional tersebut, tak sebanding dengan peralatan yang mereka miliki. “Peralatan yang kami miliki seperti Talempong, Bansi, Gandang, dan lainnya tersebut merupakan peralatan yang masih dari tahun 1999 awal berdirinya BSTM. Hal tersebut berdampak terhadap performa musik yang dihasilkan,” kata Andri dengan nada rendah. Melalui haluan, harapan BSTM yang diwakili oleh Andri tersebut terlontar dengan lancar. “Saya selaku perwakilan dari BSTM berharap agar para pejabat di kalangan Jurusan, Fakultas, dan Universitas, serta instansi lainnya memberikan bantuan kepada BSTM. Kalau tak bisa memberikan bantuan dana, bantuan berupa alat pun kami terima. Kalau memang ada dana, berikanlah dana tersebut kepada BSTM, agar peralatan yang kami miliki baru dan menghasilkan performa musik yang maksimal. Budaya yang kita miliki mesti dilestarikan dan dibantu, jangan sampai Malaysia telah mengambil alih, baru marah-marah,” tutupnya berharap.
Beberapa hasil karya BSTM dapat dilihat di :
1. http://www.youtube.com/watch?v=YmrYNFcq2zs&list=UUiNcOM9iYGoZF-Rd5BnCOtw&index=4&feature=plcp
2. http://www.youtube.com/watch?v=LzmeAnYESoU 
3. http://www.youtube.com/watch?v=vDKBHrtZRCY&list=UUiNcOM9iYGoZF-Rd5BnCOtw&index=13&feature=plcp 
4. http://www.youtube.com/watch?v=PZjwXMN1Z00&list=UUiNcOM9iYGoZF-Rd5BnCOtw&index=12&feature=plcp 
5. http://www.youtube.com/watch?v=PZjwXMN1Z00&list=UUiNcOM9iYGoZF-Rd5BnCOtw&index=12&feature=plcp
PAKAIAN TRADISIONAL MINANGKABAU
Masyarakat Minangkabau mengenal berbagai jenis busana tradisional, yang penggunaannya hampir selalu dikaitkan dengan fungsi sosial tertentu. Apalagi kalau orang itu memegang peranan penting dalam masyarakatnya, seperti penghulu dan bundo kanduang, seperangkat kain yang membungkus tubuhnya bukan saja berfungsi melindungi tubuh tetapi mengandung makna-makna simbolis yang harus dipegang teguh. Pakaian Panghulu Seorang panghulu atau ninik mamak, yang digelari datuk oleh masyarakat memegang peranan penting sebagai pemimpin kaumnya dan berhak mengatur sanak keluarga yang terhimpun dalam kaumnya. Oleh karena itu ia memiliki pakaian kebesaran. Masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasi yang berbeda, namun secara umum terdiri dari destar, baju hitam longgar, celana hitam lebar, sesamping, kain sandang, keris, dan tongkat. Pakaian kebesaran ini juga disebut pakaian adat, terdiri dari destar sebagai penutup kepala. Biasa disebut saluak batimba (seluk bertimba) terbuat dari kain batik. Bagian muka saluak ditata berkerut-kerut berjenjang dengan bagian atas datar. Kerutan-kerutan tersebut melambangkan aturan hidup orang Minangkabau yang diungkapkan melalui pepatah berjenjang naik bertangga turun. Kemudian dikenakan baju lengan hitam longgar (besar lengan) dengan leher lepas tidak berkatuk, belah sampai ke dada tanpa kancing. Hal ini melambangkan keterbukaan dan kelapangan dada seorang pemimpin yang tidak suka mengunting dalam lipatan. Umumnya dipakai celana (sarawa) lapang warna hitam. Celana lapang ini melambangkan kesiagaan, walaupun lapang dibatasi oleh ukua (ukur) dan jangko (jangka) diwujudkan melalui sulaman benang emas pada pinggirnya (minsai). Dalam pepatah dinyatakan ukua panjang tak buliah singkek, jangko singkek tak dapek panjang, artinya ukur panjang tak dapat singkat, jangka pendek tak dapat singkat. Dikenakan pula kain samping (sesamping) yang melilit pinggang di atas lutut dengan sudutnya seperti niru tergantung. Pemakaian samping seperti niru tergantung ini melambangkan kehati-hatian pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masuarakat. Sesamping ini dipakai terutama saat bepergian dan kebanyakan dipilih warna merah sebagai lambang keberanian serta tanggungjawab. Ragi benang emas yang menghiasinya disebut cukia menandakan bahwa pemakainya memiliki pengetahuan yang cukup di bidangnya. Pinggangnya dililit cawek (ikat pinggang) dari sutra berjumbai (bajambua alai). Dimaksudkan supaya kokoh luar dan dalam. Bahunya berselempang kain sandang atau kain kaciak dari kain cindai sebagai lambang kebesaran seorang penghulu (ninik mamak). Keris dengan posisi miring ke kiri terselip di perut melambangkan keberanian tanpa bermaksud menghadang musuh melainkan untuk menjadi hakim. Biasanya masih ditambah dengan tongkat untuk berjalan di malam hari atau berdiri lama. Pada hakekatnya tongkat adalah komando anak kemenakan, untuk mengingatkan bahwa penghulu punya penongkat atau pembantu dalam menjalankan jabatannya. Juga melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat harus ditegakkan penuh wibawa. Sebagai alas kaki dikenakan selop dari beludru. Pakaian Bundo Kanduang Seorang wanita yang telah diangkat menjadi bundo kanduang (bunda kandung) memegang peranan penting dalam kaumnya. Tidak semua wanita dapat menjadi bundo kandungan. Ia haruslah orang yang arif bijaksana, kata-katanya didengar, pergi tempat bertanya dan pulang tempat berita. Ia juga merupakan peti ambon puruak , artinya tempat atau pemegang harta pusaka kaumnya. Oleh karena itu memiliki pakaian adat yang berbeda dengan wanita lainnya. Seperti juga pada pakaian penghulu, masing-masing daerah adat di Minangkabau memiliki variasinya masing-masing. Tetapi umumnya kelengkapan pakaian bundo kanduang terdiri dari tengkuluk, baju kurung, kain selempang, kain sarung, dan berhiaskan anting-anting serta kalung. Seorang bundo kandung mengenakan tengkuluk tanduk atau tengkuluk ikek sebagai penutup kepala. Bahannya berasal dari kain balapak tenunan Pandai Sikat Padang Panjang . Bentuknya seperti tanduk kerbau dengan kedua ujung runcing berumbai dari emas atau loyang sepuhan. Pemakaian tengkuluk ini melambangkan bahwa perempuan sebagai pemilik rumah gadang. Baju kurungnya berwarna hitam, merah, biru atau lembayung ditaburi dengan benang emas. Pinggirnya dihias minsai sebagai lambang demokrasi tetapi dalam batas-batas yang patut. Di bahu kanannya berselempang ke rusuk kiri kain balapak, melambangkan tanggungjawab yang harus dipikul oleh bundo kanduang untuk melanjutkan keturunan. Penutup badan bawah digunakan kain sarung (kodek) balapak bersulam emas. Sarung ini berfungsi religius bagi pemakainya, sebagi simbol meletakkan sesuatu pada tempatnya seperti pepatah memakan habis-habis, menyuruk (bersembunyi) hilang-hilang. Perhiasan yang dikenakan adalah subang atau anting-anting dari emas. Kalung dari beberapa macam, yaitu kalung kuda, kalung pinyaram, kalung gadang, dan kalung kaban. Tangannya dihiasi gelang gadang (besar), gelang bapahek dan gelang ular. Pemakaian gelang melambangkan bahwa semua yang dikerjakan harus dalam batas-batas kemampuan. Pakaian sehari-hari Para wanita, khususnya yang telah berumur dalam kesehariannya mengenakan baju kurung ke luar, lambak/kodek atau kain sarung, dan selendang pendek. Baju kurung ke luar lengannya panjang dan dalamnya sampai di bawah lutut terbuat dari berbagai jenis bahan sesuai kemampauan. Lambak atau kodek, yang juga disebut kain sarung dapat berupa kain songket, batik, sarung bugis ataupun kain pelekat. Tutup kepalanya dari selendang pendek dengan ujung tergerai ke belakang. Variasi lain dikenakan tengkuluk, sementara selendang tersampir di bahu. Kadang-kadang juga dilengkapi dengan pemakaian beberapa perhiasan, seperi kalung, anting-anting serta cincin. Kaum prianya, sehari-hari mengenakan celana batik tanpa pisak, baju putih model gunting cina dan peci/kopiah. Pilihan warna putih pada baju melambangkan kebersihan dan kemurnian para pemakainya. Model gunting cina merupakan model pakaian longgar menujukkan pakaian sehari-hari. Khusus pada pakaian penghulu, bila ada sulaman menandakan kerajinan anak kemenakan yang mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Lelaki muda lebih suka mengenakan peci dari bahan beludru warna hitam sebagai penutup kepala. Pemakaian peci oleh penghulu masih dibalut dengan destar hitam yang mempunyai kerutan-kerutan. Destar dengan kerutan ini melambangkan aturan adat berjenjang turun, bertanggan naik, bermakna seseorang tidak boleh menurut kehendak sendiri. Sebagai pelengkap dibahunya tersampir kain bugis (bugih), yang pada saat waktu sholat dapat digunakan semestinya. Tidak ketinggalan tongkat "manau sonsang" ikut melengkapi pakaian yang dikenakan oleh penghulu. Sumber : http://www.minangforum.com/Thread-Busana-Tradisional-Minangkabau